Wednesday, December 17, 2014

Irwandi Yusuf




 “Pak Irwandi masih peduli kepada kami. Bahkan lebih mudah berkomunikasi dengan dirinya dari pada dengan pejabat negara,”


Dia muncul dan besar karena sejarah pergolakan Aceh menuntut merdeka dari Jakarta. Ia masuk Gerakan Aceh Merdeka dan dipercaya menduduki posisi Staf Khusus Komando Pusat Tentara GAM dari tahun 1998-2001. Keterlibatannya sebagai Staf Khusus Komando Pusat Tentara GAM membuat ia berurusan dengan aparat keamanan Indonesia dan ditangkap pada awal 2003. Ia divonis 9 tahun dalam kasus Makar.

Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 melepaskan dirinya dari penjara Keudah, Banda Aceh. Ia melarikan diri ke Finlandia, dan ia diberikan tugas oleh petinggi GAM di Swedia sebagai Koordinator Juru Runding GAM. Saat rapat pertama Aceh Monitoring Mission, dia tampil sebagai koordinator Juru Runding GAM di Aceh (2001-2002).(Sumber: Wikipedia).

Lelaki kelahiran Bireuen pada 2 Agustus 1960 merupakan mantan Dosen di Universitas Syiah Kuala. Buku Singa Aceh telah mengubah dirinya. Jiwa keacehannya muncul. Itu pula yang menyebabkan dirinya masuk GAM.

Sejatinya, sebelum memenangkan kontestasi Pemilihan Umum KePala Daerah secara Langsung –pertama did Indonesia- pada 2006, dia bukanlah tokoh yang diperhitungkan. Namun sejarah berkata lain, perlawanannya kepada tak tik politik GAM tua, menyebabkan dirinya terkenal. Akhir cerita dia memenangkan Pemilukada Aceh bersama dengan Muhammad Nazar. Mereka maju dari jalur independen. 

Dimasa dirinya menjadi Gubernur, banyak program pro rakyat lahir. Misal beasiswa untuk anak yatim, Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) dan lain sebagainya.Terlepas dari pro dan kontra gaya kepemimpinannya, dia berhasil memutar arah jarum sejarah.

Tapi pada pemilukada selanjutnya, dia terpental dari arena politik. Rakyat menghukum dirinya atas klaim ketidakmampuan mengeluarkan Aceh dari jurang kemiskinan. Banyak orang memusuhinya. Termasuk organisasi yang dahulu dia bela. Bahkan partai yang sempat dia subsidi selama menjadi orang nomor satu di Aceh, ikut membuangnya keluar gelanggang.

Titik klimaksnya adalah ketika terjadi insiden pemukulan oleh simpatisan salah satu partai politik lokal, saat Irwandi keluar dari acara pelantikan Gubernur baru Aceh Zaini Abdullah-Muzakir Manaf.

Akhir-akhir ini namanya kembali disebut-sebutkan oleh manusia Aceh. Hal ini timbul karena kekecewaan masyarakat terhadap kinerja Zikir yang dinilai juga gagal mengembalikan Aceh ke era kejayaan. Padahal Aceh punya begitu banyak modal. Bahkan peringkat Aceh sebagai daerah korup semakin sahih berada di runner up se Indonesia.

Semakin hari semakin banyak saja orang-orang yang bercerita bahwa dimasa Irwandi menjadi “raja” di Aceh, kondisi Aceh masih lebih baik. Bahkan tidak sedikit yang menyesal telah termakan bujuk rayu dan fitnah politik yang menjelekkan kinerja suami Darwati.

Saat penulis menanyakan siapa saja gubernur impian yang layak memimpin Aceh kedepan? Banyak yang masih menjawab bahwa Irwandi salah satu kandidat yang diimpikan kembali ke puncak singgasana. 

Mengapa? Pertama alasannya sudah saya kemukakan diatas. Kedua, Irwandi dinilai lebih dewasa dalam berpolitik. Dia lebih memilih mundur selangkah dan tidak memberikan perintah membalas, atas setiap kekerasan yang dialamatkan kepada partainya (PNA-pen) did pemilu 2013 yang lalu. Dia tidak mau darah dibalas dengan darah. 

Ketiga, Irwandi tetap sebagai pemimpin rakyat. Walau sudah tidak lagi menjadi Gubernur, tidak sedikit uluran tangannya masih dirasakan oleh rakyat. “Pak Irwandi masih peduli kepada kami. Bahkan lebih mudah berkomunikasi dengan dirinya dari pada dengan pejabat negara,” ujar seorang warga.

Pertanyaannya kemudian adalah: apakah Irwandi masih berminat kembali menjadi Gubernur Aceh? Pertanyaan ini wajar, sebab dia begitu dihina saat pemilu kemarin. Partainya dihajar habis-habisan tanpa ada yang membela. Bahkan tidak jarang ada yang telah mengkafirkan dirinya dengan berbagai alasan. Itu diluar gambar fotonya yang diedit dan dibuat macam-macam –termasuk digambarkan sebagai berhala-.

Akhirnya, pertanyaan saya tentu akan dijawab oleh waktu. 2017 –bila dihitung dengan kalkulasi politik- tentu bukan jarak yang jauh. Siapkah Irwandi kembali? Dengan konsekuensi akan kembali dihina dan difitnah.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menjilat Irwandi. Walau sama-sama berasal dari Bireuen, tapi kami tak pernah bertemu. Baik saat dia masih sebagai Gubernur Aceh, amupun ketika dirinya menjadi rakyat biasa. Saya juga bukan kader PNA. 

Lalu mengapa saya menulis ini? Tentu sebagai ikhtiar untuk terus mengampanyekan orang-orang yang punya kapasitas untuk menduduki jabatan “raja” sekaligus “pelayan” rakyat. Soal menang dan kalah, itu bukan urusan saya. []









1 comment:

  1. duet IRWANDI & MUZAKKIR bisa dijadikan komando baru untuk MEMERDEKAKAN rakyat Aceh dari ketertinggalan baik dari sektor ekonomi, pendidikan maupun kesehatan dan infrastruktur lainnja yang dapat membuat rakyat Aceh merasakan kemerdekaan yang telah lama di idam-idamkan.

    Tapi itu semua tidak mudah karena penjakit yang dialami Aceh sungguh sudah sangat kronis, butuh waktu, kedewasaan, keakuran, keseriusan, kecerdasan, kesungguhan, keikhlasan dan kesabaran dari semua element masyarakat Aceh tentunja.

    http://masterramadhan.blogspot.com/2014/12/irwandi-muzakkir-akan-merdekakan-rakyat.html

    ReplyDelete