Pledoi Bangsa Tupai
Dulu ada jamu Cap Tupai yang begitu cetar membahana khasiatnya di kalangan lelaki kampung yang membutuhkan stamina tinggi untuk urusan lahir dan batin. Jamu ini-sebagai doping kelas rakyat, sangat laku di warung-warung kopi kampung. Tiap hari berpuluh-puluh bungkus laku terjual pada sore atau malam hari.
Efek lainnya, pesanan kopi dan telur ayam kampung turut terdongkrak. Karena untuk mendapatkan khasiat sempurna dari sebungkus jamu Cap Tupai, haruslah ditambah kuning telur ayam kampung dan kopi pahit.
Jamu ini menjadi minuman khusus lelaki dewasa dari berbagai kelas. Mulai kelas elit politik kampung sampai jelata miskin yang bekerja sebagai keubeu nok.
Walau telah ditasbihkan sebagai “obat kuat” lahir batin, namun jamu tersebut tidak direkomendasi untuk pelajar SMU. Karena ada anggapan bahwa para pelajar tidak membutuhkan tenaga berlebih untuk menyerap pelajaran di sekolah yang disampaikan oleh guru mata pelajaran.
Lupakan tentang jamu itu. Karena ternyata efeknya tidak sekuat yang dipahami oleh masyarakat. Buktinya walau jamu itu laku keras, namun tingkat kemiskinan rakyat jelata tidak terdongkrak menjadi kaya. Padahal doping tenaga diminum tiap harinya. Juga cerai gugat juga tiap tiga bulan sekali terjadi di rata kampung. Entah fenomena ini ada kaitan antara tenaga lahir dan batin. Entahlah.
Beberapa bulan lalu saya menemukan umpung tupai di dahan kelapa di kebun saya. Ada dua ekor anak tupai imut di dalam sarang itu. Mereka Nampak tidak berdaya. Akhirnya hati saya tidak tega untuk menjahannamkan mereka. Saya tidak punya daya pungoe yang luar biasa untuk menghilangkan hak hidup dua nyawa binatang yang saat itu terlihat cukup lemah untuk menantang dunia.
Namun akhir-akhir ini istri saya mengeluh bahwa tradisinya membuat kuah leumak mulai terancam. Berpuluh-puluh bajik kelapa dijatuhkan dari tangkainya oleh tupai. Saya tidak tahu apakah itu pekerjaan tupai yang tempo hari tidak saya jahannamkan, atau tupai impor lain yang datang pasca tiga batang kelapa saya semakin rajin berbuah.
Tentu, menghadapi kondisi ini, saya nyaris tidak bisa berbuat apa-apa. sebab selain karena dunia saya dan tupai sangat berbeda, juga karena kemampuan menembak saya menggunakan media apapun pantas diragukan. Akhirnya dua kelemahan itu membuat tupai menemukan surganya di kebun kecil kami.
Untuk melawan ekspansi tupai tersebut, beberapa kali saya mencoba memetik kelapa yang berusia muda. Apalagi anak lelaki saya sangat menggemari kepala muda. Namun saya menemukan efek negatif lainnya. Kepala saya mulai marah dan malas berbuah.
Saya tentu tidak punya keberanian yang cukup untuk mengajak perangkat desa untiuk melakukan perang terhadap tupai. Karena dilihat dari mindset para perangkatnya, bahwa mereka rata-rata adalah para tetua yang tidak mau membuang energi untuk hal-hal yang sifatnya uang keluar. Lagi pula, hanya saya dan beberapa orang kecil saja yang mengeluhkan kondisi bahwa tupai sudah pada taraf menganggu.
Hingga pada suatu ketika saya membuat gugatan-suatu hal yang kemudian saya dicap gila oleh beberapa orang yang mengetahui rencana tersebut- kepada raja tupai. Hingga sidang pun digelar di balai tupai yang berlokasi tepat di samping rumah saya.
Hingga pada akhirnya dua ekor tupai muda menyampaikan pledoinya di hadapan majelis tupai. Bahwa protes yang saya lakukan dianggap salah alamat serta terlalu naïf pada kondisi saat ini.
“Bahwa rumah-rumah indatu kami sudah dirusak secara sistematis oleh raja-raja manusia. Tidak ada tempat lagi bagi kami untuk tinggal, makan, beranak cucu serta menghabiskan masa tua dengan damai. Hutan kami sudah diganti oleh lahan sawit. Para geuchik dekat hutan, serta di dukung oleh para pejabat Negara telah menjual rumah-rumah kami untuk lahan sawit orang kaya.
Kami tergerus dari rumah kami. Kami terhina dengan sikap tidak berperikehewanan umat manusia. Kami dipaksa hijrah dari rumah-rumah kami. Tentu, menghadapi manusia secara langsung, bangsa tupai tidak punya kekuatan.
Jangan sebut ekspansi kami ke kebun kamu sebagai bentuk penjajahan, walau Muhajir Juli sudah sangat teraniaya oleh ulam kami. Anggap saja-kalau kamu bersedia-bahwa ini bentuk pembalasan dari bangsa tupai. Tentu kami melihat-lihat juga. Hanya kebun-kebun mereka yang lemah kami kuasai. Ketidakmampuan oknum manusia seperti kamu, kami manfaatkan untuk membalas dendam,”
Saya sudah berencana menolak pandangan keliru umat tupai yang disampaikan oleh dua tupai muda itu. Namun kalam saya tidak berlanjut, karena kalimat selanjutnya yang disampaikan oleh tupai sangat mengejutkan saya.
“Kamu jangan bersedih atas perang yang tidak seimbang ini. Kami hanya terlihat menang di kebun mu, walau sejatinya kami kalah di rumah kami sendiri. Lihatlah perilaku manusia secara umum, yang tega menjajah bangsanya sendiri dengan kasat mata. Jatah anak yatim dan fakir miskin dirampok. Orang-orang cerdas yang jahat, berkolaborasi dengan orang bodoh yang punya jabatan, menyatu untuk merampok apapun yang bisa dirampok. Tidak peduli itu dana mesjid, jatah anak yatim dan fakir miskin, uang pembangunan, termasuk juga merampok jatah orang yang sudah mati secara menggenaskan.
Kami tidak terlalu anjing-jikalau anjing tidak protes atas kalimat ini- dari perilaku anjing yang benar-benar anjing. Bahkan perilaku anjing tidak seanjing perilaku manusia yang keanjing-anjingan.
Sudahlah Muhajir Juli, marilah kita berdamai dalam ketidakdamaian keadilan ini. Kami tahu kamu terzalimi. Namun yakinlah bahwa kami juga terzalimi dengan ulah bangsa mu. Nikmatilah penjajahan ini sebagai bentuk balas duka atas nasib yang menimpa kami dulunya. Ekspansi kami tidaklah banyak. Hanya tujuh ekor tupai yang kami sepakati untuk menempati kebun mu yang luasnya tidak seberapa ini. Karena kami juga tidak punya cukup keberanian untuk mendiami secara paksa kebun-kebun milik Bupati, Gubernur, Wakil Gubernur, Anggota DPRA/K, Kepala Dinas, eks Kombatan GAM, oknum TNI-POLRI, oknum orang kaya jahat, oknum keuchik jahat dan penjahat lainnya.
Bahkan kami tidak bisa berbuat apa-apa ketika indatu kami namanya dikutip secara paksa untuk nama jamu kejantanan yang dikonsumsi manusia. Sungguh sebuah penghinaan yang luar biasa dari manusia bar-bar yang kami tidak mampu melakukan protes.
Biarlah anak kami yang tujuh itu damai dalam kebun mu yang sialnya selalu gagal kau petik hasil kelapanya. Dari pada mereka harus kehilangan nyawa bila kami paksa untuk tinggal di kebun para pejabat yang gemar berbohong namun bertampang shalih itu.
Harapan kami hanya satu, biarlah kami tetap ada-walau hanya di kebun ini-dengan jumlah terbatas. Selemah-lemahnya usaha adalah, kelak anak mu tetap mengenal tupai, bahwa kami binatang yang layak hidup. Doa kami, semoga kelak anak mu juga punya hati seperti kamu yang telah menyelamatkan ketika kami bayi. Walau kami tahu kamu bukanlah manusia yang bisa melakukan apapun, namun kebaikan hatimu minimal ditiru oleh anak-anakmu. Semoga bangsa tupai bisa selaras dengan keluargamu. Salam hormat kami, bangsa tupai. Tertanda, Syahren dan Syahrun,”
Saya tidak bisa berargumen lagi di hadapan majelis tupai. Saya kalah dan tupai berterima kasih. Saya pulang. Namun ketika tiba di bawah pohon kelapa, enam ekor ayam sedang berbahagia sambil menyanyikan lagi India kegemaran saya; Dhadkan. Mereka secara berpasang-pasangan mematuk bulir cabe yang rencananya nanti sore saya petik untuk memasak kuah asam keu eueng. Allahu Rabbi![]
Efek lainnya, pesanan kopi dan telur ayam kampung turut terdongkrak. Karena untuk mendapatkan khasiat sempurna dari sebungkus jamu Cap Tupai, haruslah ditambah kuning telur ayam kampung dan kopi pahit.
Jamu ini menjadi minuman khusus lelaki dewasa dari berbagai kelas. Mulai kelas elit politik kampung sampai jelata miskin yang bekerja sebagai keubeu nok.
Walau telah ditasbihkan sebagai “obat kuat” lahir batin, namun jamu tersebut tidak direkomendasi untuk pelajar SMU. Karena ada anggapan bahwa para pelajar tidak membutuhkan tenaga berlebih untuk menyerap pelajaran di sekolah yang disampaikan oleh guru mata pelajaran.
Lupakan tentang jamu itu. Karena ternyata efeknya tidak sekuat yang dipahami oleh masyarakat. Buktinya walau jamu itu laku keras, namun tingkat kemiskinan rakyat jelata tidak terdongkrak menjadi kaya. Padahal doping tenaga diminum tiap harinya. Juga cerai gugat juga tiap tiga bulan sekali terjadi di rata kampung. Entah fenomena ini ada kaitan antara tenaga lahir dan batin. Entahlah.
Beberapa bulan lalu saya menemukan umpung tupai di dahan kelapa di kebun saya. Ada dua ekor anak tupai imut di dalam sarang itu. Mereka Nampak tidak berdaya. Akhirnya hati saya tidak tega untuk menjahannamkan mereka. Saya tidak punya daya pungoe yang luar biasa untuk menghilangkan hak hidup dua nyawa binatang yang saat itu terlihat cukup lemah untuk menantang dunia.
Namun akhir-akhir ini istri saya mengeluh bahwa tradisinya membuat kuah leumak mulai terancam. Berpuluh-puluh bajik kelapa dijatuhkan dari tangkainya oleh tupai. Saya tidak tahu apakah itu pekerjaan tupai yang tempo hari tidak saya jahannamkan, atau tupai impor lain yang datang pasca tiga batang kelapa saya semakin rajin berbuah.
Tentu, menghadapi kondisi ini, saya nyaris tidak bisa berbuat apa-apa. sebab selain karena dunia saya dan tupai sangat berbeda, juga karena kemampuan menembak saya menggunakan media apapun pantas diragukan. Akhirnya dua kelemahan itu membuat tupai menemukan surganya di kebun kecil kami.
Untuk melawan ekspansi tupai tersebut, beberapa kali saya mencoba memetik kelapa yang berusia muda. Apalagi anak lelaki saya sangat menggemari kepala muda. Namun saya menemukan efek negatif lainnya. Kepala saya mulai marah dan malas berbuah.
Saya tentu tidak punya keberanian yang cukup untuk mengajak perangkat desa untiuk melakukan perang terhadap tupai. Karena dilihat dari mindset para perangkatnya, bahwa mereka rata-rata adalah para tetua yang tidak mau membuang energi untuk hal-hal yang sifatnya uang keluar. Lagi pula, hanya saya dan beberapa orang kecil saja yang mengeluhkan kondisi bahwa tupai sudah pada taraf menganggu.
Hingga pada suatu ketika saya membuat gugatan-suatu hal yang kemudian saya dicap gila oleh beberapa orang yang mengetahui rencana tersebut- kepada raja tupai. Hingga sidang pun digelar di balai tupai yang berlokasi tepat di samping rumah saya.
Hingga pada akhirnya dua ekor tupai muda menyampaikan pledoinya di hadapan majelis tupai. Bahwa protes yang saya lakukan dianggap salah alamat serta terlalu naïf pada kondisi saat ini.
“Bahwa rumah-rumah indatu kami sudah dirusak secara sistematis oleh raja-raja manusia. Tidak ada tempat lagi bagi kami untuk tinggal, makan, beranak cucu serta menghabiskan masa tua dengan damai. Hutan kami sudah diganti oleh lahan sawit. Para geuchik dekat hutan, serta di dukung oleh para pejabat Negara telah menjual rumah-rumah kami untuk lahan sawit orang kaya.
Kami tergerus dari rumah kami. Kami terhina dengan sikap tidak berperikehewanan umat manusia. Kami dipaksa hijrah dari rumah-rumah kami. Tentu, menghadapi manusia secara langsung, bangsa tupai tidak punya kekuatan.
Jangan sebut ekspansi kami ke kebun kamu sebagai bentuk penjajahan, walau Muhajir Juli sudah sangat teraniaya oleh ulam kami. Anggap saja-kalau kamu bersedia-bahwa ini bentuk pembalasan dari bangsa tupai. Tentu kami melihat-lihat juga. Hanya kebun-kebun mereka yang lemah kami kuasai. Ketidakmampuan oknum manusia seperti kamu, kami manfaatkan untuk membalas dendam,”
Saya sudah berencana menolak pandangan keliru umat tupai yang disampaikan oleh dua tupai muda itu. Namun kalam saya tidak berlanjut, karena kalimat selanjutnya yang disampaikan oleh tupai sangat mengejutkan saya.
“Kamu jangan bersedih atas perang yang tidak seimbang ini. Kami hanya terlihat menang di kebun mu, walau sejatinya kami kalah di rumah kami sendiri. Lihatlah perilaku manusia secara umum, yang tega menjajah bangsanya sendiri dengan kasat mata. Jatah anak yatim dan fakir miskin dirampok. Orang-orang cerdas yang jahat, berkolaborasi dengan orang bodoh yang punya jabatan, menyatu untuk merampok apapun yang bisa dirampok. Tidak peduli itu dana mesjid, jatah anak yatim dan fakir miskin, uang pembangunan, termasuk juga merampok jatah orang yang sudah mati secara menggenaskan.
Kami tidak terlalu anjing-jikalau anjing tidak protes atas kalimat ini- dari perilaku anjing yang benar-benar anjing. Bahkan perilaku anjing tidak seanjing perilaku manusia yang keanjing-anjingan.
Sudahlah Muhajir Juli, marilah kita berdamai dalam ketidakdamaian keadilan ini. Kami tahu kamu terzalimi. Namun yakinlah bahwa kami juga terzalimi dengan ulah bangsa mu. Nikmatilah penjajahan ini sebagai bentuk balas duka atas nasib yang menimpa kami dulunya. Ekspansi kami tidaklah banyak. Hanya tujuh ekor tupai yang kami sepakati untuk menempati kebun mu yang luasnya tidak seberapa ini. Karena kami juga tidak punya cukup keberanian untuk mendiami secara paksa kebun-kebun milik Bupati, Gubernur, Wakil Gubernur, Anggota DPRA/K, Kepala Dinas, eks Kombatan GAM, oknum TNI-POLRI, oknum orang kaya jahat, oknum keuchik jahat dan penjahat lainnya.
Bahkan kami tidak bisa berbuat apa-apa ketika indatu kami namanya dikutip secara paksa untuk nama jamu kejantanan yang dikonsumsi manusia. Sungguh sebuah penghinaan yang luar biasa dari manusia bar-bar yang kami tidak mampu melakukan protes.
Biarlah anak kami yang tujuh itu damai dalam kebun mu yang sialnya selalu gagal kau petik hasil kelapanya. Dari pada mereka harus kehilangan nyawa bila kami paksa untuk tinggal di kebun para pejabat yang gemar berbohong namun bertampang shalih itu.
Harapan kami hanya satu, biarlah kami tetap ada-walau hanya di kebun ini-dengan jumlah terbatas. Selemah-lemahnya usaha adalah, kelak anak mu tetap mengenal tupai, bahwa kami binatang yang layak hidup. Doa kami, semoga kelak anak mu juga punya hati seperti kamu yang telah menyelamatkan ketika kami bayi. Walau kami tahu kamu bukanlah manusia yang bisa melakukan apapun, namun kebaikan hatimu minimal ditiru oleh anak-anakmu. Semoga bangsa tupai bisa selaras dengan keluargamu. Salam hormat kami, bangsa tupai. Tertanda, Syahren dan Syahrun,”
Saya tidak bisa berargumen lagi di hadapan majelis tupai. Saya kalah dan tupai berterima kasih. Saya pulang. Namun ketika tiba di bawah pohon kelapa, enam ekor ayam sedang berbahagia sambil menyanyikan lagi India kegemaran saya; Dhadkan. Mereka secara berpasang-pasangan mematuk bulir cabe yang rencananya nanti sore saya petik untuk memasak kuah asam keu eueng. Allahu Rabbi![]

No comments for "Pledoi Bangsa Tupai"
Post a Comment